Rumah ke Dua
Termenung hanya dalam angan
membaca wujud yang yang tak nampak
Butiran air berselancar
menggenangi pori-pori yang telah mengkerut
Duduk bersimpuh yang terlaksana
menadahkan jemari mengaharap iba
Isak tangis pun teriring
melisankan sebuah do`a
Tua renta
menyadarkan akan rumah ke dua
berbekal selimut putih
Menghadap Dia yang mencipta
Siapa Tanyaku
Gelap coba kulangkahi
Meniti harap yang terbebani
Lari dan berkelok tuk menghindar
Namun semu bayangmu mendekati
Apa, siapa dan bagaimana
Aku sendiri tak tahu
Semakin Aku bertanya
Semakin tak sanggup ku tuk menjawabnya
Secercah harapan Ku kembangkan
Benamkan diri melukismu
Walau maya tapi Ku percaya
Karena wujudmu adalah mimpi Ku
Keraguan
Pertemuan tak tersadarkan
Tatapan mata terlahir olehnya
Sekejap ku terdiam
seketika muncul nama mu
Terbayang sesaat senyum canda dan tawa mu
menghapus sedikit penatku
Lalu diri bertanya
makna apakah yang tersirat
Cinta
Prasangka
atau hanya sekedar jenaka
Dalam keraguan
Perlukah ku tanya jawab mu